Banyak pengguna mobil listrik (EV) menyadari bahwa daya jelajah kendaraan mereka di lapangan sering kali tidak sejauh angka yang diklaim oleh produsen. Fenomena ini ternyata bukan karena niat produsen untuk memanipulasi data, melainkan adanya perbedaan signifikan antara prosedur pengujian di laboratorium dengan kondisi penggunaan nyata.
Standar Laboratorium vs Realita Jalanan Menurut Jayan Sentanuhady, pakar mesin dari Universitas Gadjah Mada (UGM), pabrikan umumnya menggunakan standar pengujian internasional seperti WLTP, NEDC, atau EPA. Uji coba ini dilakukan di lingkungan yang sangat terkendali.
“Di laboratorium, pengujian biasanya dilakukan pada suhu ideal sekitar 23-25 derajat Celcius dengan beban kendaraan yang sangat minimal—seringkali hanya berisi pengemudi saja. Selain itu, kecepatan dijaga konstan dan akselerasi dilakukan secara perlahan,” ujar Jayan.
Faktor Penghambat di Kondisi Nyata Ada beberapa alasan utama mengapa baterai mobil listrik lebih cepat terkuras saat digunakan sehari-hari, terutama di Indonesia:
-
Lalu Lintas yang Macet (Stop and Go): Berbeda dengan kecepatan stabil di laboratorium, kemacetan memaksa mobil sering berhenti dan melaju kembali. Proses menggerakkan mobil dari posisi diam membutuhkan lonjakan energi yang jauh lebih besar dibandingkan saat mobil sudah melaju stabil.
-
Kondisi Geografis: Jalanan di Indonesia tidak selalu datar. Menanjak di area perbukitan memberikan beban kerja ekstra pada motor listrik yang secara otomatis menyedot daya baterai lebih banyak.
-
Gaya Berkendara: Kebiasaan pengemudi yang sering melakukan akselerasi mendadak atau pengereman yang tidak teratur membuat konsumsi energi menjadi tidak efisien.
-
Penggunaan Fitur Kenyamanan (AC): Di negara tropis seperti Indonesia, pendingin udara (AC) hampir selalu menyala. Komponen seperti kompresor dan blower mengambil daya langsung dari baterai utama, yang secara langsung memangkas jarak tempuh keseluruhan.
Kesimpulan Meskipun angka pada brosur memberikan gambaran potensi maksimal kendaraan, pengguna harus bijak dalam berekspektasi. Perbedaan antara hasil uji laboratorium dan penggunaan harian adalah hal yang wajar karena banyaknya variabel eksternal yang tidak bisa disimulasikan secara sempurna saat pengujian pabrik.
